AMBARAWA — Petani di Kecamatan Ambarawa, khusunya di Pekon Sumberagung, harap-harap cemas menyusul ancaman kekeringan pada ratusan hektar sawah di wilayah itu. Puso juga mengancam, mengingat saat ini tanaman padi yang berusia antara 50 sampai 60 hari memasuki masa berbuah.
Sumber air yang ada juga tak lagi dapat diandalkan. Aliran dari daerah irigasi Way Ngison airnya juga tak lagi dapat sampai ke sawah mereka. Warga yang berupaya membuat sumur bor secara swadaya debit airnya juga tak sebesar dulu lagi.
“Untuk Pekon Sumberagung saja ada 280 hektare yang terancam kekeringan,” jelas ketua Gapoktan Pekon Sumberagung, Sugiyanto.
Mengingat sumber air yang ada tak lagi sampai ke sawah mereka ditambahakan oleh sekertaris Kelompok Tani Sumbertani 8 Ali Nurman petani swadaya membuat sumur bor. ”Agar air tetap ada, akhirnya swadaya membuat sumur bor," jelasnya.
Ketua kelompok tani Sumbertani 4 Wawan berharap pemerintah turun tangan dengan memberikan bantuan mesin sedot untuk membantu mengatasi kesulitan petani.
Krisis air yang ditandai dengan tak lagi mengalirnya irigasi akibat kecilnya debit air Way Ngison dibenarkan oleh ketua P3A Sumberagung Andi Lala. Menurutnya, kondisi ini sudah berjalan 10 hari belakangan. ”Debit air dari bending Way Ngison sangat kecil sehingga tak sampai ke irigasi,” bebernya.
Ketua HKTI Kecamatan Ambarawa Warsito berharap persoalan yang dihadapi petani tersebut perlu ditanggapi serius oleh semua pihak dengan berupaya mencarikan solusinya. ”Keberadaan sumur bor hanya untuk jangka pendek, mengingat persoalan air selalu menjadi persoalan yang dihadapi perlu dipikirkan solusi jangka panjang. Yakni dengan mencari sumber air dengan menaikkan sungai yang masih besar debit airnya diiringi langkah serius penghijauan,” ajaknya.
Terkait apa yang dialami petani Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH), Ir. Jatiwan pada Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Pringsewu mengatakan sejak jauh hari sebenarnya petani sudah diimbau agar tak memaksakan tanam bila tak memungkinkan mendapat air.
Ini berdasar prediksi akan tibanya musim kemarau. ”Dinas pertanian tentu saja faham akan kegelisahan petani. Ini karena faktor alam sementara sumber air juga mulai mengering,” akunya prihatin. Terkait sumur bor menurutnya memang tak dapat banyak mengatasi. ”Sumur air dangkal kemampuannya juga terbatas, makanya kini tak ada lagi bantuan kearah itu," jelasnya.
0 komentar:
Posting Komentar
Sedulur-sedulur jangan lupa komentarnya ya!